02 Januari 2010

Economics For Dummies (Like Me)

Pengetahuan ini didapat dari salah satu Bukunya Safir Senduk. Semoga bermanfaat!

Sekarang anda bayangkan, apa yang akan terjadi bila negara kita tidak memiliki uang sama sekali. Semua uang ditarik dari peredaran, baik uang 100ribu, 50ribu, 20ribu, uang kertas maupun uang koin, sampai kita dan negara kita tidak lagi mempunyai uang.

Orang sekarang tidak akan bekerja lagi. Ini karena tidak ada lagi uang yang bisa didapat. Dunia usaha lemah dan lesu seperti tubuh manusia yang kehilangan banyak darah. Anda menjadi malas pergi ke kantor karena anda tau anda tidak akan digaji pada akhir bulan. Orang-orang juga tidak akan lagi berbisnis atau meneruskan usahanya sehingga akan terjadi pengangguran besar-besaran.

Kemudian, lemparkan sejumlah uang ke negara kita. Apa yang akan terjadi? Orang mulai mau bekerja. Dunia usaha mulai bangkit dan mulai memburu uang. Pengangguran berkurang. Lalu lemparkan lagi sejumlah uang, maka orang-orang jadi lebih bersemangat. Mereka akan membuka usaha baru dan makin semangat bekerja untuk bisa memperebutkan uang. Pengangguran makin berkurang karena banyaknya kesempatan kerja baru.

Lemparkan lagi sejumlah uang. Maka orang-orang di negara kita akan menjadi lebih aktif lagi bekerja. Semua orang bekerja, baik itu bekerja pada orang lain ataupun membuka usaha baru. Pengangguran berkurang drastis. Dalam keadaan seperti ini dunia usaha mungkin akan kekurangan tenaga kerja, sehingga banyak anak-anak di bawah umur yang juga bekerja. Semua orang sekarang punya uang untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan, sehingga permintaan atas barang dan jasa jadi tinggi.

Lalu lakukan antiklimaks : Uang ditarik kembali sedikit demi sedikit. Tidak sekaligus. Apa yang terjadi? Semangat orang berkurang lagi. Begitu seterusnya.

Likuiditas
Tarik ulur jumlah uang dalam suatu negara akan mempengaruhi perekonomian. Besar kecilnya jumlah peredaran uang itu disebut likuiditas. Jadi, besar kecilnya produksi barang dan jasa biasanya sangat tergantung pada tingkat likuiditas di suatu negara.

Karena negara memegang hak monopoli dalam pencetakan uang, maka besar kecilnya likuditas serta seberapa banyak jumlah uang yang harus dicetak ditentukan oleh sebuah bank yang disebut Bank Sentral. Di Indonesia, bank sentral yang kita kenal adalah Bank Indonesia (BI). BI berfungsi layaknya jantung pada tubuh manusia. Jantung memompa darah, yang pada akhirnya membawa zat-zat makanan ke seluruh tubuh. Besar kecilnya likuiditas akan mempengaruhi perekonomian dan lepangan kerja bagi banyak orang.

PDB-Ukuran Produktivitas Ekonomi Suatu Negara
Likuiditas mempengaruhi produksi barang dan jasa. Nah, barang dan jasa yang diproduksi suatu negara dalam waktu tertentu disebut Produk Domestik Bruto (PDB). Naik turunnya perekonomian suatu negara diukur dari PDB. Bila PDB Indonesia pada 1997 adalah Rp 1 triliun, dan pada 1998 adalah Rp 1.2 triliun, ini berarti perekonomian Indonesia naik 20%. Demikian pula sebaliknya.

Bila diamati, suatu negara biasanya mengalami siklus ekonomi yang selalu berulang dalam beberapa tahun sekali. Siklus ini bisa dilihat dari besarnya PDB. Siklus-siklus tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Masa Ekspansi
    • Suatu negara tiba-tiba kaget 'dilempari' uang, seperti darah yang pelan-pelan mengalir kembali setelah tubuh kehilangan banyak darah.
    • Cara bank sentral melemparkan uang adalah dengan menurunkan suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman. Dengan rendahnya suku bunga simpanan, orang pelan-pelan mulai menarik uangnya untuk membuka usaha dan atau untuk konsumsi. Ngapain nyimpen uang di bank kalo nggak produktif? Dengan rendahnya suku bunga pinjaman, orang jadi mau meminjam uang ke bank. Efeknya sama.
    • Usaha baru bermunculan. Uang mulai berpindah tangan.
  2. Masa Puncak
    • Uang ada dimana-mana. Orang seperti tidak mau lagi menyimpan uang di bank, tetapi digunakan untuk membuka usaha.
    • Pergerakan uang dari satu tangan ke tangan yang lain terjadi sangat cepat. Mesin perekonomian mulai panas.
    • Harga barang dan jasa meningkat gila-gilaan. Inflasi besar mengancam.
  3. Masa Resesi
    • Pemerintah takut akan efek sosial dan politik bila terjadi inflasi. Karena tau harga akan naik terus, maka orang akan panik dan membeli barang-barang di supermarket.
    • Laju inflasi dikurangi dengan memperlambat pompa likuiditas.
    • Sebagian uang ditarik dari peredaran dengan cara menaikkan tingkat suku bunga simpanan dan pinjaman. Orang mulai mau menyimpan uangnya di bank. Naiknya suku bunga pinjaman juga membuat orang malas membuka usaha.
    • Inflasi mulai bisa ditekan.
    • Angka pengangguran mulai naik kembali.
  4. Masa Depresi
    • Uang terserap ke dalam sistem perbankan. Banyak usaha bangkrut dan gulung tikar.
    • Pengangguran gila-gilaan.
    • Harga barang dan jasa menurun, jika tidak, maka tidak ada yang akan membeli.
    • Suku bunga simpanan dan pinjaman tinggi sekali.
    • Siklus akan kembali ke awal.

Demikian seterusnya siklus ekonomi di suatu negara terjadi. Walau setiap negara memiliki siklus ekonomi yang sama, besarannya belum tentu sama. Yang dijelaskan di atas adalah kondisi ekstrim untuk mempermudah ilustrasi. Misalnya, masa resesi yang terjadi pada periode tertentu, mungkin tidak separah masa resesi yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Informasi mengenai pemahaman ekonomi ini mungkin bermanfaat, terutama bagi anda, sebagai penentu kebijakan keuangan keluarga anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar